Tinggalkan komentar

LIMA PILAR KELUARGA SAKINAH DALAM BINGKAI IBNU MALIK

Oleh : Buhadi Den Anom

Perkawinan adalah pintu gerbang menuju sebuah rumah tangga,dimana didalamnya terlibat dua orang manusia,seorang pria dan seorang wanita yang diikat oleh tali perkawinan,yang akhirnya dari padanya terlibat pula anak-anak yang dilahirkan akibat pertalian nikah antara keduanya.Selanjutnya,tujuan dari perkawinan adalah membentuk sebuah keluarga bahagia.Dalam perspektif ajaran islam populer dengan ungkapan keluarga sakinah.
Keluarga sakinah adalah suatu ungkapan untuk menyebut sebuah keluarga yang penuh damai,tentram dan bahagia.Jadi keluarga sakinah adalah sebuah keluarga yang ideal dalam rumah tangga,yang secara fungsional dapat mengantar orang pada cita-cita dan tujuan membangun keluarga.Dan secara teoritis,membangun sebuah keluarga yang ideal-keluarga sakinah-biasanya jarang terjadi,tidak mudah seperti membalik telapak tangan.Tapi butuh proses dan perjuangan,makanya dalam alqur’an surah ar-Rum ayat 21 menggunakan redaksi”Litaskunu Ilaiha” yang artinya bahwa Tuhan menciptakan perjodohan bagi manusia agar yang satu merasa tentram terhadap yang lain.Dalam gramatikal bahasa arab, “Litaskunu” pada ayat tersebut diatas,sebenarnya memiliki makna yang bersifat akan datang alias belum terjadi.Ini terlihat dari tata bahasa yang digunakan:agar supaya tentram(litaskunu).

Kata “agar supaya tentram” berarti belum terjadi.Karena itu butuh proses dan perjuangan untuk mewujudkannya.Kembali pada pokok soal,bahwa dalam konteks keluarga sakinah dalam prosesnya tidak terjadi mendadak,tetapi memerlukan sebuah perjuangan dan pengorbanan serta pilar-pilar yang kokoh yang mampu membingkai bangunan keluarga dari terpaan badai kehidupan.Oleh karena itu,tulisan mini ini akan mencoba mengurai tentang pilar-pilar keluarga sakinah yang disadur dari beberapa bait kitab Alfiyah Ibnu Malik yaitu: “Kalamuna lafdzun mifidun kastaqim, “Farfa’ bidhammin wansiban fathan wajur, Kasran kadzikrullahi abdahu yasur.

PILAR KELUARGA SAKINAH

Jika kita menganalogikan keluarga sakinah bagai sebuah bangunan megah,maka dapat dipastikan adanya pilar-pilar kokoh yang mampu menyangga bangunan tersebut menjadi tahan gempa dan tsunami kehidupan.Begitu pula keluarga sakinah,butuh pondasi iman dan taqwa serta lima pilar sebagai instrumennya,diantaranya:

Pertama,”Kalamuna lafdzun mufidun kastaqim” yang artinya bahwa perlu adanya komunikasi dengan menggunakan redaksi yang baik dan patut secara kontinyu.Sebab sejatinya dalam membina rumah tangga pasangan suami istri tidak lepas dari masalah yang selalu menggelinding dalam kehidupannya,oleh karena itu komunikasi memiliki peran penting dalam memecahkan dan menyelesaikan sebuah masalah.
Kita melihat dalam potret kehidupan sehari-hari banyak dijumpai pasangan suami istri yang terjebak dalam konflik berkepanjangan,hanya karena sebab yang sepele dan remeh.Mereka tidak mampu mengungkapkan keinginan dan perasaan secara lancar kepada pasangannya,yang berdampak muncul salah paham dan memicu emosi serta kemarahan pasangan.Ini menunjukkan adanya komunikasi yang tidak lancar alias gagal,sehingga berpotensi merusak suasan hubungan antara suami dengan istri.Sekali lagi,disinilah pentingnya komunikasi yang aktif antara suami dan istri dalam menjalin hubungan dalam rumah tangga.Agar komunikasi antara suami dan istri bisa efektif,ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh kedua belah pihak antara lain:

1.Mengetahui ragam komunikasi,dari berbicara,menulis,hingga menyampaikan pesan berbagai media.
2.Bersikap empati,memposisikan diri anda pada situasi perasaan dan pikiran yang sedang dialami pasangan.
3.Fleksibel,komunikasi kadang memerlukan suasana dan gaya serius,namun ada kalanya lebih efektif menggunakan suasana dan gaya santai.
4.Memahami bahasa non verbal,kadang ekspresi wajah dan bahasa tubuh pasangan anda sudah mengisyaratkan sesuatu pesan.
5.Jadilah pendengar yang baik,jangan mengusai komunikasi dengan terlalu banyak bicara dan tidak mendengar.
6.Egaliter,hilangkan sekat pembatas antara anda dengan pasangan yang menghalangi kehangatan komunikasi.
7.Hindarkan kalimat dan gaya yang menyakiti hati pasangan yang menghalangi kehangatan komunikasi.
8.Sampaikan pesan dengan lembut dan bijak,jangan berlaku kasar dalam komunikasi.
9.Gunakan bahasa dan media yang tepat,sesuai dengan situasi dan kondisi saat melakukan komunikasi.
10.Pilih waktu,suasana dan tempat yang tepat untuk mendukung kelancaran berkomunikasi. 2

Kedua,”Farfa’ bidhammin” yang artinya mari galang kebersamaan,yaitu dalam hubungan rumah tangga diperlukan adanya menjalin kebersamaan dalam keluarga.Kebersamaan dalam hal ini tidak sekedar kehadiran fisik belaka,namun adanya keterlibatan emosi pada seluruh anggotanya.Kebersamaan yang terjalin dengan kualitas yang bagus,tidak akan berpengaruh oleh kuantitas waktunya,dalam arti yang lebih luas kebersamaan dapat diartikan sebagai kekompakan.Karena suami dan istri adalah dua insan yang berbeda karakter,sehingga diperlukan suatu kekompakan dan kebersamaan dalam meraih sebuah keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.Ada banyak sarana yang bisa kita mamfaatkan untuk membina kebersamaan dalam keluarga antara lain:Bercanda bersama,bermain bersama,belajar bersama,makan bersama dan sebagainya.Dengan demikian kebersamaan dalam keluarga akan memotivasi keterbukaan dalam keluarga.

Ketiga,”Wansiban fathan”,Yaitu adanya transparansi dalam hubungan suami dan istri.Artinya diperlukan manajemen yang transparan dalam suatu rumah tangga,sehingga dapat menyehatkan dan juga dapat memberikan dampak positif dalam menjaga stabilitas rumah tangga terhadap bentuk-bentuk virus penyakit dalam rumah tangga,seperti rasa curiga,perselingkuhan,rasa tidak dihargai dan tidak bisa berbagi.

Keempat,”Wajur kasran”,yang artinya hindari perpecahan.Maksudnya pasangan suami istri harus mampu mengelolah komflik keluarga.Karena keluarga sakinah bukan berarti keluarga tanpa masalah,tapi lebih kepada adanya keterampilan untuk mengelolah konflik yang terjadi didalamnya.Secara garis besar,ada tiga jenis manajemen konflik dalam rumah tangga,yaitu mencegah terjadinya konflik,mengelolah konflik bila terlanjur berlangsung,dan membangun kembali perdamaian setelah konflik redah.

Kelima,”Kadzikrullahi abdahu yasur”,yaitu dengan berdzikir kepada Allah,maka seorang hamba akan jadi bahagia.Pada pilar pamungkas ini yaitu berdoa kepada Allah,dengan memohon pertolonganNya agar keluarga yang kita bangun menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah.Karena doa adalah otak dan sarinya ibadah,yang mengandung arti mengakui atas kelemahan diri dan meyakinkan atas kekuatan dan kekuasaan Allah SWT.Sebab hanya dengan ridha Allah semuanya bisa terwujud,termasuk membangun keluarga sakinah.Dari diskripsi ini dapat kita tarik benang merahnya,bahwa untuk menggapai keluarga sakinah dibutuhkan pilar-pilar yang kokoh yaitu:adanya komunikasi yang baik,menjalin kebersamaan,transparansi,hindari perpecahan,dan banyak berdoa.Insyaallah dengan yakin,dengan lima pilar ini kita dapat menggapai bahtera keluarga bahagia,yang berlabu didermaga keluarga sakinah mawaddah warahmah.Wallahu a’lam bisshowab.

Disalin dari jatim.kemenag.go.id

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: