Tinggalkan komentar

Budi Dharmawan Keluarga Lebih Penting daripada Nikah Lagi

Menjadi orangtua tunggal bagi 13 anak. Bagaimana Budi membangun kembali keutuhan keluarga setelah ditinggal sang istri tercinta

Budi Dharmawan tidak ingin duka meliputi keluarganya bertengger terlalu lama. Sekitar satu setengah bulan pasca kematian istrinya, Yoyoh Yosroh (anggota Dewan Perwakilan Rakyat sekaligus pendiri Partai Keadilan Sejahtera), pada 21 Mei 2011, dia segera menggelar rapat keluarga. Tiga belas anaknya, dua menantu, dan sejumlah cucu hadir dalam pertemuan itu.

“Intinya, kita ingin membuat komitmen bersama pada tujuan bersama. Ke depannya seperti apa,” ujar Budi kepada Suara Hidayatullah yang berkunjung ke rumahnya awal Oktober lalu.

Dalam pertemuan itu Budi mengatakan kepada keluarganya, bahwa dia tidak secara otomatis menggantikan peran seorang ibu kepada anak-anaknya. Biar pun saat ini dia sebagai single parent (orangtua tunggal), bukan berarti dia menjadi ayah sekaligus ibu untuk lusinan anaknya itu. “Artinya, saya tetaplah seorang ayah,” kata pria kelahiran Bandung, 17 April 1961 ini.

Baginya, single parent bukan berarti satu orangtua menggantikan peran ayah atau ibu. Karena itu, ia mengajak anak-anaknya yang sudah besar untuk membantunya mendidik dan mengasuh adik-adik mereka.

Syukurlah, peran Budi mengasuh anak juga dibantu oleh anak-anaknya yang telah besar. Seperti anak sulungnya Ahmad Umar Al Faruq dan sejumlah adiknya seraya meneruskan pesantren penghafal al-Qur`an, Ummu Habibah, di Tangerang yang telah dirintis oleh sang ibu.

Anaknya yang ketiga, Asma Karimah telah menikah, sedangkan anak nomor 8, 9, dan 10 di pesantren. “Hanya anak yang ke-11, 12, 13, dan nomor 7 yang selalu tinggal di sini (di rumah bersamanya),” kata Budi.

Kepada anak-anaknya, budi mengatakan kepergian sang ibu merupakan satu bentuk kebersamaan baru. Semua anggota keluarga harus tetap komitmen mencapai tujuan bersama. “Yakni, bagaimana kita bisa mengantarkan seluruh anggota keluarga untuk masuk pintu gerbang surga,” kata Budi yang juga Wakil Sekjen PKS bidang protokoler dan rumah tangga ini.

Mendahulukan kepentingan dan keutuhan keluarga, menjadi prioritas hidup Budi, daripada kepentingan pribadi. Baginya, hal itu berarti menomorduakan urusan mencari istri baru demi menjaga perasaan anak-anaknya yang kebanyakan masih kecil.
“Menikah belum menjadi prioritas saat ini,” ujar pria lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 1987 ini.

Pengaruh sang istri
Semasa hidup, sang istri memang dikenal wanita yang sangat padat aktivitasnya. Aktvitas Yoyoh berdakwah dan sebagai anggota dewan menuntutnya sering berpergian dan meninggalkan anak-anaknya. Tapi, bukan berarti anak-anaknya menjadi terlantar.
Komitmen Yoyoh dan Budi dalam mengatur waktu telah memberikan karakter kuat pada anak-anaknya. Kata Budi, ketiga belas anaknya telah dibiasakan berpuasa sehari penuh selama Ramadhan sejak usia tiga tahun.

Karenanya, kata Budi, semua anak-anaknya cukup siap saat menerima kabar kepergian ibu mereka. Putri kedua belasnya yang masih kelas 5 SD, Helma Hamimah, bahkan sempat membuat puisi untuk ibunya saat hari ibunya meninggal. Berikut penggalan puisinya:

Kabar itu datang …. Ummi sudah meninggal
Aku berusaha menahan air mata, namun
Aku tak kuasa menahan
Maka bulir air mata jatuh hingga pipiku
Lembab karena tangisanku
Ya Allah …. ia masih mempunyai 13 anak dan 1 pesantren

Menurut Budi, pengaruh didikan sang ibu bergradasi pada masing-masing anak. Tergantung sejauh mana interaksi mereka dengan sang ibu. “Kalau yang kecil-kecil tentu saja tidak sedalam Umar, anak pertama. Secara nilai dia paham betul kiprah ibunya sebagai daiyah. Dia yang paling sabar di antara anak-anak yang lain,” ujar Budi yang dulu kerap mengisi seminar-seminar parenting bersama istrinya ini.

Kerinduan
Diakui Budi, perasaan kerinduan anak-anak terhadap sosok ibu memang kerap muncul. Di antaranya lewat mimpi anak-anaknya. Helma, misalnya, sepekan setelah pemakaman dia bermimpi mendapati ibunya berada di rumah. Helma menceritakan, ibunya bilang mendapat cuti satu tahun dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk pulang ke dunia. “Aku senang bisa pergi ke mana-mana dan foto-foto sama Ummi,” tutur Budi menirukan cerita putrinya.

Saat ibunya mau kembali ke Allah, kata Helma, Abi menahan Umminya untuk pergi. Namun, dalam mimpi itu Ummi berkata, kalau Ummi tidak pulang, nanti tidak dapat cuti lagi dari Allah. “Kemudian Ummi pulang ketika dipanggil oleh malaikat: wahai ‘illiyyin, sudah saatnya engkau kembali kepada Allah”.

Taat Suami
Budi mengatakan, Yoyoh – wanita kelahiran tahun 1962 yang dinikahinya pada 1985 itu – adalah sosok wanita yang taat kepada suami. Sampai-sampai, katanya, soal urusan memindahkan meja makan saja dia meminta izin kepadanya.

Itu sebabnya, Budi tidak pernah bisa marah hingga tiga hari kepada Yoyoh. Budi menceritakan, jika dirinya sedang marah kepada Yoyoh, dia tidak akan memberi tangannya untuk dicium sang istri ketika akan berangkat tugas. Dan, Yoyoh pun memilih tidak berangkat kerja sebelum dirinya mendapatkan ridha suaminya. Akhirnya, diberikan juga tangannya.

“Dia tidak mau sisakan persoalan sekecil apa pun di rumah. Sebab, dia tahu di luar masih banyak persoalan-persoalan besar yang harus diselesaikan,” kata Budi yang pernah menjabat Staf Ahli Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault ini.

Budi di Mata Anaknya
Di mata anak sulungnya, Umar, Budi adalah seorang ayah cerdas yang kerap membuat keputusan-keputusan brilian dalam masalah-masalah keluarga. Kata Umar, sang ayah yang telah lama aktif dalam gerakan dakwah selalu memahamkan kepada anak-anaknya, bahwa kepergian sang ibu adalah karena takdir Allah semata.

Menurut Umar, masalah takdir penting ditekankan karena Shalahuddin Al Ayubi – putra ke-5 – merasa sangat bersalah atas kematian ibunya. Sebab dialah yang mengemudikan mobil saat terjadinya kecelakaan yang berujung pada tewasnya sang ibu.

Kata Umar, karena sekarang ibunya telah tiada maka sang ayah menjadi sentral bagi anak-anaknya untuk berbakti kepada orang tua. “Abi jadi lebih sering berinteraksi dengan anak-anaknya. Lagi pula jam kerja Abi fleksibel, lebih banyak kerja malam hari,” kata Umar yang lulusan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ini.

Umar mengatakan, sebenarnya sudah ada beberapa pihak yang menawarkan ayahnya untuk menikah lagi. Tapi hal itu belum pernah dibahas. Seandainya sang ayah menikah lagi, Umar berharap wanita itu bisa seperti ibunya. “Yang menomorsatukan keluarga, pengayom, dan hafal al-Qur`an,” pungkasnya.

Disalin dari  Ibnu Syafa’at, Surya Fachrizal/Suara Hidayatullah NOPEMBER 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: