Tinggalkan komentar

Pembiasaan Apa yang Anda Berikan kepada Anak?

Ramadhan sudah berlalu setengahnya. Sudah kita memanfaatkan untuk melakukan pembiasaan ibadah dan ketaatan kepada keluarga kita? Kami selalu berusaha menjadikan momentum Ramadhan sebagai sarana pembiasaan kebaikan bagi seluruh anggota keluarga.

Di garasi rumah kami, setiap malam dijadikan tempat tarawih untuk anak-anak, sebagai sarana pembiasaan ibadah kepada mereka. Lebih dari delapan puluh anak-anak tetangga sekitar, setiap malam memadati garasi rumah kami untuk bersama-sama menunaikan shalat Isya’ dan shalat tarawih bersama-sama. Usai shalat, diteruskan dengan dongeng selepas tarawih untuk mereka.

Sebelum Ramadhan tiba, kami sudah mengajak anak-anak tersebut untuk mengikuti Pesantren Al Qur’an, juga di garasi rumah kami. Mereka mendapatkan pengajaran mengenai cara membaca Al Qur’an yang baik dan benar, menghafalkan beberapa ayat Al Qur’an, dan mendapatkan pelajaran tentang makna ayat-ayat yang mereka baca.

Ini adalah sebentuk upaya menanamkan kebiasaan positif pada anak-anak sejak dini. Karena dalam hal apa anak-anak kita biasakan, itulah yang akan sangat menentukan kehidupannya di masa depan.

Menanamkan Perasaan Ketuhanan

Penanaman kebiasaan positif sangat diperlukan untuk modal dasar kebaikan mereka di masa-masa yang akan datang. Di antara hal yang mendasar adalah upaya menanamkan perasaan Ketuhanan dalam kehidupan anak-anak. Mengajak mereka merasakan selalu berada dalam lindungan dan pengawasan Tuhan, sehingga muncul perasaan tenteram, aman, terjaga, terlindungi, namun juga terawasi setiap saat.

Perasaan Ketuhanan ini yang akan memberikan perasaan adanya pengawasan melekat Tuhan terhadap apapun yang dipikirkan, dirasakan, diucapkan dan dilakukan. Saya teringat sebuah kisah yang ditulis oleh Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin tentang dialog antara Sahal bin Abullah At Tustari dan pamannya Muhammad Ibnu Siwar.

“Ketika aku berusia tiga tahun, aku selalu bangun malam. Aku melihat shalat pamanku, Muhammad Ibnu Siwar. Pada suatu hari ia berkata kepadaku, apakah engkau tidak ingat kepada Allah yang telah menciptakan kamu ?”

“Bagaimana aku mengingatnya ?”

Pamanku berkata, “Katakan di dalam hatimu ketika kamu berbolak-balik di atas tempat tidurmu, tiga kali, tanpa menggerakkan lidahmu: Allah bersamaku, Allah mengawasiku, Allah menyaksikan aku”.

Dan aku kerjakan itu lalu aku laporkan kepadanya. ”Ucapkan setiap malam tujuh kali “, kata paman.

Aku kerjakan kemudian aku laporkan kepadanya. ”Ucapkan itu setiap malam sebelas kali”. Akupun laksanakan pesan tersebut, maka aku merasakan rasa nyaman dalam kalbuku.

Setelah satu tahun berlalu, pamanku berkata, “Peliharalah apa yang telah aku ajarkan kepadamu, dan tetapkan mengerjakannya hingga kamu masuk kubur. Karena sesungguhnya yang demikian itu bermanfaat untuk kamu di dunia dan di akhirat”. Dalam beberapa tahun, aku terus mengerjakannya, maka aku dapatkan rasa nyaman dalam kesunyianku.

Kemudian pamanku berkata padaku pada suatu hari, ”Wahai Sahal, barangsiapa merasa Allah bersamanya, melihat dan menyaksikannya, apakah ia akan mendurhakai-Nya. Janganlah sekali-kali kamu durhaka.”

Pembiasaan Kebaikan

Kisah di atas menunjukkan pengaruh positif dari pembiasan meresapi kata-kata Ketuhanan. “Tuhan bersamaku, Tuhan mengawasiku, Tuhan menyaksikan aku”, adalah contoh kata-kata yang memberikan dampak munculnya perasaan pengawasan Ketuhanan dalam diri manusia.

Tidak ada tempat yang aman untuk bersembunyi, karena semua selalu diketahui dan diawasi oleh Tuhan. Ketika terbersit keinginan melakukan kejahatan, korupsi, penyimpangan wewenang, penyalahgunaan kekuasaan, mengambil hak dan jatah orang lain, kemaksiatan, serta berbagai perbuatan jahat lainnya, selalu merasa diawasi Tuhan. Bagaimana akan bisa melakukan kejahatan, jika merasakan adanya pengawasan Ketuhanan?

Maka, mumpung masih berada di tengah bulan Ramadhan, mari kita biasakan berbagai nilai positif pada anak-anak. Tentang kejujuran, kebersihan, kesucian, kerapian, kedisiplinan, ketaatan, kesopanan, kepedulian, semangat berbagi, menolong orang lain, dan lain sebagainya. Jika nilai-nilai kebaikan sudah kita biasakan sejak awal, insyaallah akan bisa memberi pondasi bagi kebaikan anak di masa dewasanya.

disalin dari http://wonderful-family.web.id oleh Ust. Cahyadi Takariawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: