Tinggalkan komentar

Sebaiknya Menikah Pada Usia Berapa?

Oleh : Cahyadi Takariawan

Baru saja saya membaca berita di Republika, ajakan kepada para santri agar menikah pada usia matang. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengajak para pemuda yang menempuh pendidikan di pesantren untuk dapat menunda usia perkawinan atau tidak menikah muda. “Alangkah lebih baik jika menikah pada usia matang dan tidak pada usia dini,” kata Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN Sudibyo Alimoeso di Jakarta, Selasa (31/07/2012).

Sudibyo menyatakan BKKBN terus melakukan sosialisasi secara intensif kepada para santri atau mereka yang menempuh pendidikan di pesantren. Sosialisasi tersebut diselenggarakan oleh BKKBN dan Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama Jawa Timur.

Sudibyo menjelaskan, kasus pernikahan dini masih kerap ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia dengan usia pernikahan dini antara 16 hingga 19 tahun bahkan ada yang di bawah itu. Sudibyo Alimoeso menjelaskan, penundaan usia nikah merupakan salah satu program BKKBN dalam menekan laju pengendalian penduduk Indonesia karena pernikahan dini bisa mengakibatkan masa reproduksi yang jauh lebih panjang dibandingkan pernikahan setelah usia yang matang. Demikian berita yang dilansir Republika, Selasa (31/07/2012).

Mengapa Menikah Dini?

Salah satu alasan pernikahan di usia muda –terutama di kalangan santri—adalah untuk menghindari perbuatan dosa. Di kalangan para santri, diajarkan agar mereka menghindari pacaran dan pergaulan bebas, karena itu akan mendekatkan kepada perbuatan zina yang sangat dilarang dalam agama. Sementara itu usia mereka yang tengah mengalami perkembangan dan pertumbuhan pubertas, membuat mereka mengalami dorongan ketertarikan kepada pasangan jenis yang sangat kuat.

Ditambah dengan budaya pergaulan yang demikian “gaul” pada kalangan remaja dan informasi yang amat deras menerpa mereka melalui teknologi komunikasi, telah menambah cepat perkembangan masa pubertas tersebut. Hal ini menimbulkan sejumlah kekhawatiran pada orang tua santri, ketika menyaksikan anaknya telah mulai tertarik dengan pasangan jenis, segera ditanting untuk melanjutkan hubungan itu secara sah dan bertanggung jawab dengan melaksanakan akad nikah.

Jika tidak segera menikah, dikhawatirkan anak-anak muda ini terjerumus ke dalam perzinahan yang sangat dilarang agama. Itulah salah satu alasan nikah pada usia yang relatif masih muda di kalangan santri, agar mereka lebih bisa menjaga diri tidak jatuh ke dalam perzinahan dan kemaksiatan. Pernikahan adalah jalan halal untuk menyalurkan hasrat biologis mereka yang telah mulai memuncak.

Pernikahan Visioner

Alasan menjauhkan dari perzinahan tentu sangat masuk akal, karena para santri diharapkan bisa menjaga diri untuk tidak melakukan perbuatan dosa. Akan tetapi persoalannya, sebagaimana dikemukakan BKKBN, adalah –apakah usia pernikahan mereka sudah cukup matang untuk menjalani kehidupan keluarga?

Jika pernikahan tidak dilakukan dengan kematangan jiwa, dikhawatirkan yang terjadi hanyalah upaya pencegahan dari perbuatan maksiat, namun tidak disertai dengan visi yang kuat tentang bangunan rumah tangga. Pengantin laki-laki belum cukup memiliki jiwa kebapakan dan jiwa tanggung jawab untuk memimpin keluarga, dan apalagi menanggung beban-beban kerumahtanggaan yang tidak sederhana. Nikah bukan saja soal menyalurkan hasrat biologis, namun lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah ajaran mulia untuk membentuk keluarga dengan segala peran yang ada di dalamnya.

Tidak cukup mudah memberikan batasan kematangan usia. Apakah usia 19 itu matang? Ataukah usia 21, atau 24, atau berapapun. Bagaimana jika kita jumpai seorang lelaki muda, usia 16 tahun, namun sudah memiliki kematangan kejiwaan? Sudah mampu berproduksi secara ekonomi, memiliki sifat tanggung jawab, kebapakan, kepemimpinan yang menonjol, dan berbagai sifat yang diperlukan sebagai seorang suami.

Namun di sisi lain, usia 16 tahun itu masih sangat muda. Jika ia menikah pada usia itu maka ia harus rela meninggalkan dunia remaja, menuju dunia orang tua. Ia akan berstatus sebagai orang tua dalam waktu yang lama, karena nikahnya masih sangat muda. Ia akan kehilangan momentum keremajaan yang bisa lebih bebas mengekspresikan potensi, dibanding sudah berstatus sebagai suami yang terikat dengan sejumlah peran dan tanggung jawab.

Sebagaimana juga kita bisa menjumpai pemuda usia 25 tahun, namun belum memiliki visi yang jelas tentang keluarga. Bahkan ada yang bilang, banyak pemimpin bangsa yang tidak dewasa. Jadi soal usia memang relatif, namun berdasarkan pengalaman dan kejadian di berbagai wilayah, bisa diambil batas rata-rata usia kedewasaan masyarakat Indonesia. Ini semua adalah dalam rangka untuk mendapatkan kemaslahatan yang luas serta menghindari kemudharatan.

Yang sangat diperlukan adalah kejelasan visi. Pernikahan harus dilandasi dengan visi yang terang benderang mengenai peran-peran suami, isteri, orang tua, anak dan berbagai tanggung jawab yang ada pada masing-masing bagian tersebut. Pernikahan bukan semata-mata menyalurkan keinginan dan hasrat bilogis secara halal, namun harus disertai dengan kesanggupan untuk mengelola keluarga dengan sepenuh kemampuan diri.

Saya yakin, yang dikhawatirkan BKKBN adalah perbuatan zalim dan tidak bertanggung jawab akibat pernikahan terjadi tanpa visi. Karena masih terlalu muda, belum memiliki kematangan pikiran dan kejiwaan, maka keluarga mudah mengalami guncangan, bahkan mudah pecah berantakan karena tidak siap menanggung beban permasalahan. Oleh karena itu yang diperlukan adalah kesiapan diri yang memadai, terlepas dari perdebatan soal usia berapa yang tepat untuk menikah.

Disalin dari http://wonderful-family.web.id/?p=1319#more-1319

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: