Tinggalkan komentar

Kuliah Pranikah: Mengenal Diri dan Calon Pasangan

Oleh : Ust. Cahyadi Takariawan

kawanimut_dong_yi_korea_kartun_muslimah

Pendahuluan

Seorang perancang bangunan tampak serius bekerja di ruangannya. Ia menghitung dengan cermat dan presisi setiap bagian, sejak pondasi hingga semua sudut dan bagian terkecil bangunan yang hendak didirikannya. Ia merancang sebuah bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke langit. Sebuah mega proyek yang harus dikerjakan dengan teliti dan penuh perhitungan.

Karena mega proyek yang dikerjakan berada di tengah komunitas masyarakat, bukan di tengah hutan, maka semakin cermat lagi ia menghitungnya. Tidak boleh ada yang terlewatkan. Ia memahami betul, kalau salah dalam membuat perhitungan, akan berdampak fatal kepada bangunan yang hendak didirikan. Bisa jadi bangunan tersebut mudah ambruk oleh sebuah guncangan kecil, atau karena adanya angin kencang. Jika bangunan ambruk, tentu sangat membahayakan penghuninya, dan juga warga sekitarnya.

Ia merancang bangunan tersebut untuk bisa tahan terhadap gempa maupun bencana lainnya. Gempa besar, tsunami, angin puting beliung, hingga badai matahari, telah diperhitungkan semua. Sebuah bangunan yang tidak akan mudah roboh oleh bencana. Maka ditemukanlah formula, rancang bangun dari gedung yang dimaksudkan; seperti apa pondasi yang diperlukan, kualitas besi, jumlah semen, sampai seluruh detail keperluan pembangunan.

Setiap perancang bangunan mengetahui dengan pasti, bahwa diperlukan hitungan yang berbeda untuk setiap bangunan yang hendak dibuatnya. Membuat rumah bambu, memerlukan pondasi yang sederhana saja. Membuat rumah semi permanen, berbeda lagi pondasi yang diperlukan. Membuat rumah permanen, ada lagi hitungannya. Hingga ketika membuat gedung bertingkat, memerlukan kekuatan pondasi yang berbeda dengan bangunan biasa.

Pondasi sangat menentukan kualitas gedung yang hendak dibangun. “Sekedar” membangun rumah tempat tinggal, diperlukan hitungan dan rencana yang cermat. Bagaimana dengan membangun sebuah keluarga ? Bagaimana dengan membangun peradaban kemanusiaan yang mulia ?

Merancang Pondasi Keluarga

Untuk apakah kita menikah dan membangun sebuah keluarga ? Di atas landasan apakah kita mendirikan sebuah bangunan keluarga ? Pertanyaan ini menjadi penting untuk mendapatkan jawaban dan kepastian, karena akan menentukan sejauh mana kekokohan dan ketahanan setiap keluarga bisa didapatkan.

Sesungguhnyalah pernikahan dan keluarga terjadi bukan semata-mata karena memenuhi hasrat kemanusiaan. Pernikahan adalah sebuah jalan yang bertanggung jawab untuk membentuk kebudayaan agung dan peradaban mulia. Lebih dari itu, pernikahan merupakan amanat Ketuhanan dan risalah Kenabian. Maka, pernikahan bukanlah semata peristiwa menyalurkan “hasrat kebebasan” secara bertanggung jawab, namun pernikahan adalah sebuah upaya meretas peradaban kemanusiaan yang bermartabat.

Dengan pernikahan, terbentuklah keluarga sebagai lembaga terkecil yang mampu memberikan penghargaan dan nilai secara utuh kepada semua potensi kemanusiaan. Keluarga memberikan makna yang kuat atas setiap posisi, sebagai suami, isteri, orang tua, anak-anak, kakak, adik, dan lain sebagainya. Keluarga memberikan ikatan yang bermartabat bagi semua anggotanya.

Pernikahan dan Keluarga adalah Amanat Ilahi

Sebagai muslim, kita meyakini bahwa pernikahan adalah perintah Allah Swt melalui contoh Nabi Saw yang menjadikan legitimasi sangat kuat sejak konsep hingga pelaksanaannya. Pernikahan adalah amanat Ilahi agar manusia hidup dalam keseimbangan dan mendapatkan kebahagiaan, ketenteraman, ketenangan lahir maupun batin. Pernikahan merupakan amanat Allah agar manusia berkembang biak dengan cara yang halal, sehingga terbentuk generasi baru kemanusiaan yang lebih baik dan lebih berkualitas, untuk meneruskan pengelolaan alam semesta.

Pemahaman seperti ini membuat pernikahan bukanlah peristiwa coba-coba, atau sekedar menyalurkan hasrat kemanusiaan, atau sebuah kebetulan dan kewajaran dalam kehidupan. Memahami bahwa pernikahan adalah amanat Ilahi, akan membuat kita menjadi bertanggung jawab atas pilihan pasangan hidup, sampai tanggung jawab mendidik generasi baru yang terlahir dari pernikahan tersebut. Pernikahan menjadi sesuatu yang sakral dan religius, karena diikat oleh janji agung Ilahiyah, diformat dalam ajaran agama, dan disahkan pula oleh negara.

Menikah dan membentuk keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah (QS. Ar-Rum : 21) adalah dambaan semua orang. Siapapun yang menikah dan membentuk bahtera rumah tangga, berharap akan bisa memiliki keluarga yang harmonis. Kata harmonis memiliki makna keselarasan dan keserasian antara suami, isteri dan seluruh anggota keluarga. Selaras dan serasi, menunjukkan suatu kesamaan tujuan dan cita-cita atau visi, walaupun kondisinya tidak selalu sama. Mungkin saja ada hal yang berbeda, namun perbedaan terbingkai dalam keselarasan dan keserasian.

Allah menciptakan manusia dalam wujud yang indah (QS. At-Tin : 4), dan untuk mereka Allah menciptakan pasangannya (QS. An-Nisa : 1). Secara naluriah, manusia akan memiliki ketertarikan kepada pasangan jenisnya. Ada sesuatu yang amat kuat menarik, sehingga laki-laki dengan dorongan naluriah dan fitrahnya mendekati perempuan. Sebaliknya, dengan perasaan dan kecenderungan alamiyahnya perempuan merasakan kesenangan terhadap laki-laki (Ali Imran: 14).

Untuk merealisasikan ketertarikan tersebut menjadi sebuah hubungan yang benar dan manusiawi, Tuhan memberikan tuntunan pernikahan (QS. An-Nisa’ : 3). Pernikahanlah yang menyebabkan keserasian laki-laki dan perempuan tersusun dalam kerangka yang bijak dan manusiawi. Tanpa melalui pernikahan, hubungan dan ketertarikan antara lelaki dan perempuan tidak akan mendapatkan penyaluran secara bermartabat. Ekspresi dari kecenderungan hubungan lelaki dan perempuan akan menjadi liar dan destruktif.

Mengenal Diri Sendiri

Setiap manusia harus meyakini dan mengetahui dengan jelas, bahwa kehadirannya di muka bumi adalah untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat : 56). Seluruh aktivitas kehidupannya, diam dan bergeraknya, tidur dan bangunnya adalah dalam rangka ibadah (Al An’am : 162-163). Maka pernikahan harus diletakkan dalam bingkai yang benar dan sakral, yaitu sebagai sarana peribadatan kepada Allah, untuk melaksanakan tugas kemanusiaan dan peradaban (QS. Al-Baqarah : 30).

Sebelum melaksanakan prosesi pernikahan, harus ada persiapan yang memadai dari kedua belah pihak. Kesiapan menikah ditandai oleh mantapnya niat dan langkah menuju kehidupan rumah tangga. Tidak ada rasa gamang atau keraguan tatkala memutuskan untuk menikah, dengan segala konsekuensi atau resiko yang akan dihadapi paska pernikahan.

Jika anda seorang laki-laki, ada kesiapan dalam diri anda untuk bertindak sebagai pemimpin dalam rumah tangga, untuk berperan sebagai bapak bagi anak-anak yang akan lahir nantinya dari pernikahan (QS. An-Nisa’: 34). Ada kesiapan dalam diri anda untuk menanggung segala beban-beban kehidupan yang disebabkan oleh karena posisi anda sebagai suami dan bapak.

Jika anda seorang perempuan, harus ada kesiapan dalam diri untuk membuka ruang baru bagi intervensi seorang mitra yang bernama suami. Kesiapan untuk mengurangi sebagian otoritas atas dirinya sendiri lantaran keberadaan suami. Harus ada kesiapan untuk hamil, melahirkan dan menyusui, juga kesiapan untuk menanggung beban-beban baru yang muncul akibat hadirnya anak (QS. Al-Baqarah : 233).

Pertanyaan mendasar bagi anda sebelum melaksanakan pernikahan adalah, sejauh mana kesiapan anda untuk memasuki kehidupan keluarga? Potensi dan kekuatan  apa yang telah anda miliki untuk berumah tangga? Kelemahan dan kekurangan apa yang ada pada diri anda? Apa tantangan yang anda hadapi ? Bagaimana dukungan keluarga dalam proses pernikahan anda?

Berikutnya, dengan mengenali berbagai potensi, kekuatan, kelemahan, maupun tantangan yang anda hadapi, anda harus merumuskan matriks : bagaimana mengoptimalkan potensi dan kekuatan yang sudah ada ? Bagaimana mengatasi kelemahan dan kekurangan yang anda miliki ? Bagaimana menghadapi tantangan yang menghadang di hadapan ? Dari jawaban tersebut, anda bisa menetapkan batas kesiapan untuk menikah.

Menikah memerlukan kejelasan visi, agar mampu menjalani kehidupan keluarga dengan arah dan aktivitas yang benar dan terarah. Pernikahan visioner berbeda dengan pernikahan pada umumnya, yang hanya mengandalkan hasrat biologis. Laki-laki dan perempuan harus memiliki visi yang jelas tentang arah keluarga yang akan dibentuk. Mereka memiliki pandangan yang terang tentang pengelolaan keluarga, sehingga tatkala menjalaninya, mereka tidak kebingungan orientasi dan kehilangan arah.

Mengenal Calon Pasangan

Islam telah memberikan arahan yang jelas, bahwa mencari pasangan hidup adalah berdasarkan pertimbangan agama. Bukan semata kecantikan, ketampanan, kekayaan, kedudukan, dan lain sebagainya. Pondasi agama harus sangat kuat melandasi pemilihan calon suami maupun calon isteri, agar tidak terjebak dalam kubangan pilihan syahwat dan nafsu sesaat.

Di atas landasan kriteria agama ini, bisa dibangun kriteria lainnya yang bercorak fisik. Tentu saja boleh memilih suami tampan dan kaya, tentu saja boleh memilih isteri yang cantik dan seksi, namun itu bukan pertimbangan utama. Kriteria fisik dan materi hanyalah tambahan nilai, dari nilai dasar yang sudah ditetapkan, yaitu kebaikan agama. Maka laki-laki dan perempuan harus memperbaiki kualitas keagamaan masing-masing, agar mereka layak mendapatkan jodoh yang baik pula kualitas agamanya.

Mengenal calon pasangan bisa dilakukan melalui sebuah proses nazhar atau ta’aruf antara laki-laki dan perempuan yang berproses menuju jenjang pernikahan. Ta’aruf dimaksudkan dalam rangka saling mengenali dan menjajagi kecocokan untuk meneruskan proses berikutnya. Hendaknya ta’aruf dilakukan dengan cara Islami, menghindarkan diri dari khalwat, menghindarkan diri dari berbagai aktivitas yang terlarang menurut agama.

Dalam proses ta’aruf, laki-laki dan perempuan bisa mendiskusikan visi kehidupan berumah tangga, agar keduanya bisa mendapatkan kesesuaian. Perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan tidak bisa dihindarkan, karena memang mereka memiliki kejiwaan dan struktur otak yang tidak sama. Perbedaan latar belakang keluarga juga bukan halangan. Demikian pula perbedaan kultur dan suku atau etnis, bukanlah penghalang kebahagiaan berumah tangga.

Yang paling utama adalah kesediaan untuk saling melengkapi, saling mengisi, saling memberikan yang terbaik, saling menerima apa adanya, saling berkomunikasi dengan nyaman, saling mendialogkan permasalahan, saling mengalah, saling mencintai dan menyayangi karena Allah.

Wallahu a’lam bish shawab.

Disalin dari : http://wonderful-family.web.id/?p=1415#more-1415

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: